WORKSHOP “Statistik Beras Nasional: Metode Kerangka Sampel Area (KSA)”

0
30

Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Institut Pertanian Bogor (IPB) melaksanakan Workshop yang bertajuk “Statistik Beras Nasional: Metode Kerangka Sampel Area (KSA)” di Ruang Rabuan Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB (24/10). Dalam kesempatan kali ini, workshop tersebut mengundang Bapak Latif Latif Arafat, S.Tr. Stat dan Bapak Galih Sudrajat, S.Pt dari Badan Pusat Statistik, yang mana saat ini merupakan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi FEM IPB.

Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Dr. Sahara, S.P., M.Si memberikan sambutan dan juga menyampaikan latar belakang dilaksanakannya workshop ini yaitu sehubungan dengan press conference yang telah dilakukan oleh pemerintah mengenai data lahan baku sawah, luas panen dan produksi beras berdasarkan metode perhitungan yang baru yaitu Metode KSA. Menariknya ternyata, hasil estimasi produksi beras dengan menggunakan metode KSA yang dirilis oleh BPS tersebut menghasilkan data yang berbeda. Berdasarkan Ketetapan No. 399/KEP-23.3/X/2018, tanggal 8 Oktober 2018, tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional Tahun 2018 adalah seluas 7.105.145 Hektar. Sedangkan Luas Lahan Baku Sawah Nasional menurut SK Kepala BPN-RI tahun 2013 adalah sebesar 7.750.999 Hektar. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini diharapkan para peserta dapat mendapatkan gambaran perhitungan data luas panen dan produksi padi dengan menggunakan pendekatan metode yang baru yaitu Metode KSA serta dapat membandingkannya dengan pendekatan sebelumnya.

Pemaparan diawali oleh Bapak Latif Latif Arafat, S.Tr. Stat yang menberikan penjelasan secara umum mengenai Survei Produktivitas Tanaman Padi (UBINAN) yang digunakan untuk menghitung luas panen dan produksi padi sebelum digunakannya pendekatan metode KSA. Pada dasarnya, Survei UBINAN menghasilkan output estimasi produktivitas padi yang diperoleh dari daftar sampel rumah tangga terpilih. Dimana pada survei ubinan digunakan daftar kuesioner SP-Padi dan SP-Palawija, yang dilakukan dengan frekuensi bulanan, serta SP-Alsintan dan SP-Benih yang dilakukan dengan frekuensi tahunan. Adapun perhitungan dengan metode ini dianggap bias dikarenakan pengumpulan data yang bersifat “eye estimate” yang bersifat subjective measurement.

Selanjutnya Bapak Bapak Galih Sudrajat, S.Pt menyampaikan bahwa ketidakakuratan data produksi padi telah diduga sejak 1997 (bias sekitar 17%). Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan metodologi perhitungan data produksi padi dengan menggunakan objective measurement, teknologi terkini, metodologi yang transparan dan up to date yakni dengan menggunakan pendekatan metode KSA. Beberapa kelebihan KSA diantaranya yaitu: (i) didasarkan pada pendekatan ilmiah statistk yang hasilnya tidak bias karena subyektivitas; (ii) didasasarkan pada teknologi yang dapat diimplementasikan dengan biaya investasi rendah; (iii) tingkat kesalahannya secara statistik dapat diukur; (iv) biaya operasionalnya sangat rendah apabila sudah menjadi kegiatan rutin. Metode KSA ini merupakan kerjasama antara BPS, BPPT, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, BIG dan LAPAN.

Pada intinya terdapat 4 (empat) hal yang diperbaiki dengan menggunakan metode KSA:

(i) Pertama, menetapkan luas lahan baku nasional sawah nasional dengan menggunakan citra satelit resolusi sangat tinggi yang diperoleh dari LAPAN dan kemudian diolah oleh BIG menggunakan metode Cylindrical Equal Area yang memungkinkan untuk dilakukan pemilahan dan deliniasi antara lahan baku sawah dan bukan sawah sehingga dapat menghasilkan angka luas sawah yang aktual sesuai dengan kondisi sesungguhnya.

(ii) Kedua, menetapkan luas panen padi berdasarkan pengamatan yang objektif dimana metodologi KSA menggunakan 24.223 sampel segmen lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300x300m dengan lokasi yang tetap. Dalam setiap periode tertentu, masing-masing sampel segmen tadi diamati secara visual di 9 titik dengan menggunakan HP berbasis android, sehingga dapat diamati kondisi sampel segmen tersebut apakah berada dalam kondisi persiapan lahan, fase vegetatif, fase generatif, fase panen, lahan puso, lahan sawah bukan padi, atau lahan bukan sawah yang kemudian difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah. Pengamatan yang dilakukan setiap bulan memungkinkan pula untuk memperkirakan potensi produksi beras untuk 3 bulan ke depan sehingga dapat digunakan sebagai basis perencanaan manajemen beras yang lebih baik.

(iii) Ketiga, menyempurnakan metodologi dalam menghitung produktivitas per hektar, dari metode ubinan berbasis rumah tangga menjadi metode ubinan berbasis sampel KSA. Penggunaan basis KSA dalam menentukan sampel ubinan adalah untuk mengurangi risiko lewat panen sehingga perhitungan menjadi lebih akurat. Penentuan lokasi sampel ubinan yang tadinya dilakukan secara manual saat ini menggunakan aplikasi berbasis android. Koordinat plot ubinan digunakan sebagai dasar dalam melakukan evaluasi dan analisa spasial ubinan. Selain itu, telah dikembangkan pula metode pengolahan data ubinan berbasis web dan software untuk pengecekan data outlier sehingga meminimalkan tingkat kesalahan data, sehingga dapat dihasilkan data yang akurat sesuai kondisi lapangan.

(iv) Keempat, menyempurnakan angka konversi dari Gabah Kering Panen (GKP) ke Gabah Kering Giling (GKG) dan angka konversi dari GKG ke beras. Penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan angka konversi yang lebih akurat dengan melakukan survei di dua periode yang berbeda dengan basis provinsi sehingga akan didapatkan angka konversi untuk masing-masing provinsi. Sebelumnya, konversi dilakukan hanya berdasarkan satu musim tanam dan secara nasional.

Sebagai tambahan informasi bahwa Roadmap Uji Implementasi KSA mulai dilakukan sejak tahun 2015 yang melakukan sampling di Indramayu dan Garut dengan level estimasi kecamatan dan menggunakan variabel luas panen. Kemudian pada tahun 2017 dilakukan sampling di Pulau Jawa kecuali Provinsi DKI Jakarta. Dan akhirnya pada tahun 2018, dilakukan survei di seluruh provinsi di Indonesia.

Beberapa masukan dari forum terkait penggunaan metode KSA yaitu menurut Prof. Bambang Juanda, perlunya kehati-hatian dalam menyeleksi sampel segmen dan identifikasi segmen dikarenakan pembuatan model sampling dengan stratified random sampling secara teoritis harus menggunakan sampling yang bersifat homogen. Kemudian, Ibu Haniah dari PWD juga memberikan masukan untuk perbaikan metode KSA kedepan khususnya terkait penggunaan data irigasi yang belum dirinci berdasarkan jenis irigasinya.

Workshop kali ini dihadiri oleh para peserta yang berasal dari para Dosen di lingkungan FEM IPB, mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi, PWD dan EPN serta Program Pascasarjana di lingkungan FEM IPB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here