Kemendag Gelar Seminar Nasional : Bahas Daya Saing Produk Pertanian di Pasar Global

0
311

Bogor, 12 April 2018 – Produk pertanian selalu menjadi produk unggulan perdagangan Indonesia. Nilai ekspor produk pertanian bulan Januari hingga Agustus 2017 mengalami surplus dengan ekspor mencapai 22,18 miliar dolar AS sedangkan nilai impor hanya 11,20 miliar dolar AS (BPS, 2017). Kinerja perdagangan produk pertanian merepresentasikan 22,14 persen total ekspor Indonesia dengan produk unggulan yang terkonsentrasi pada minyak nabati, produk perikanan, kopi, teh, dan kakao. Dalam tataran mikro, peluang yang ditawarkan oleh perdagangan internasional menjadi lebih berarti karena produk pertanian bukan hanya sebatas “traded commodities” tetapi juga merupakan sumber livelihoods dari setidaknya 7 juta petani kecil di pedesaan yang masih rentan dengan permasalahan kemiskinan. Melihat situasi perdagangan global saat ini, stakeholders menyadari bahwa peluang ekspor produk-produk pertanian Indonesia masih terbuka lebar dengan permintaan yang terus meningkat. Namun, tantangan perdagangan juga semakin kompleks, apalagi di era ekonomi digital ini.

Hubungan dagang yang memanas antara AS dan China ke arah perang dagang turut mewarnai situasi perdagangan global yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan mempengaruhi harga komoditas produk pertanian dunia. Namun, Indonesia tetap dapat mencari peluang yang menguntungkan sebagai mitra dagang utama dari kedua negara yang berseteru itu. Sementara itu dari sisi perkembangan teknologi, kehadiran revolusi industri 4.0 telah mengubah peta konektivitas antara manusia, mesin, dan data. Komoditas pertanian adalah salah satu bagian penting dalam perdagangan di era digital karena berkaitan erat dengan pangan yang dapat memberikan efek multiple bagi pertumbuhan ekonomi.

Kondisi terkini dalam konstelasi perdagangan internasional ini melandasi diselenggarakannya utama dalam Seminar Nasional yang diadakan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan berkerja sama dengan International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) FEM IPB, Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), dan the Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) pada hari Kamis (12/4) di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Seminar mengusung tema ‘Perdagangan Internasional Produk Pertanian: Peluang dan Tantangan’.
Dalam seminar ini, terdapat lima isu yang menjadi fokus pembahasan yaitu promosi ekspor dan peningkatan daya saing ekspor produk pertanian; perdagangan produk pertanian menghadapi kebijakan proteksionis negara tujuan ekspor; perdagangan internasional produk pertanian di era ekonomi digital; perdagangan internasional produk pertanian sebagai bagian strategi stabilisasi pasar domestik; serta perdagangan produk pertanian dan pemenuhan bahan baku industri dalam negeri.

Acara dimulai dengan sambutan Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Dr. Kasan dan dibuka oleh Rektor IPB sekaligus Ketua University Network for Indonesia Export Development (UNIED), Dr. Arif Satria. Keynote speech disampaikan oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia Kabinet Indonesia Bersatu II, Prof. Mari Elka Pangestu, Ph.D secara virtual melalui video message. Bertindak sebagai moderator acara Wakil Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Dr. Bayu Krisnamurthi dengan Narasumber: Prof. Hermanto Siregar (FEM IPB), Dr. Arief Daryanto (SB IPB), Dr. Widyastutik (FEM IPB), Dr. Amzul Rifin (FEM IPB), Prof. Bustanul Arifin (Universitas Lampung), Prof. Dr. Achmad Suryana (Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kementerian Pertanian), Ibu Sri Nastiti Budianti (BPPP, Kementerian Perdagangan), Dr. Ernawati Munadi (Program Kemitraan Indonesia-Australia untuk Perekonomian (PROSPERA)), Dr. Diana Chalil (Universitas Sumatera Utara), Dr. Titik Anas (Rumah Riset Presisi), serta Dr. Yose Rizal Damuri (Centre for Strategic and International Studies (CSIS)).

Dr. Bayu Krisnamurthi menyampaikan refleksi kinerja produk pertanian dalam menangkap peluang dan menjawab tantangan perdagangan internasional. Beberapa key messages adalah bahwa (1) Perbandingan antara economic growth dan trade growth menjadi mengecil, (2) Eksportir terkonsentrasi, importir tersebar sehingga struktur international trade market cenderung ke arah monopolistik atau oligopolistik, (3) Perdagangan komoditi makin ditinggalkan menjadi perdagangan produk olahan dengan supply chain system (4) Stress permintaan akan produk pertanian akan meningkat, tetapi trade tidak bisa berdiri sendiri untuk melindungi petani Indonesia (5) International Trade dan Domestic Trade tidak dapat dipisahkan (6) Pertanian masih sebagai andalan ekspor Indonesia seperti minyak sawit dan karet (7) Terdapat iproduk ekspor yang unggulan yang dengan dominasi bahan bakunya impor, misal Indonesia ksportir kosmetik pria terbesar di dunia dengan bahan baku impor (8) Proteksionisme dan trade war merupakan tantangan yang perlu dihadapi (9) digital economy diekspektasikan dapat menjadi akselerator perdagangan. Dinamika yang terjadi membutuhkan strategi perdagangan yang komprehensif, baik dari sisi diplomasi, hukum, maupun keilmuan, serta membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan terkait dikarenakan “International trade for agricultural products is very complex”.

Seminar ini merupakan sebuah tribute yang didedikasikan khusus untuk menyampaikan kembali kontribusi pemikiran-pemikiran kritis yang telah diberikan oleh Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS (Alm), Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB dan Direktur ITAPS FEM IPB, dalam pengembangan keilmuan perdagangan internasional di IPB serta penelitian-penelitian dan perumusan kebijakan terutama di Kementerian Perdagangan.
Bahan paparan Narasumber Acara Seminar dapat diakses dengan mengklik tautan https://tinyurl.com/seminarnasional2018 serta video “Mengenang Prof. Rina Oktaviani” dapat diakses pada: https://youtu.be/02djjM0pVyY.

Penulis : Sarifah Amaliah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here